Thursday, 12 November 2015

Sinopsis Novel DILAN: DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990

“Milea kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”
(Dilan 1990)

 “Milea jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu., nanti besoknya, orang itu akan hilang.” (Dilan 1990)

 “Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli. “ (Milea 1990)

Itu sinopsis pendek dari situs mizan.com, tentang buku novel DILAN: DIAADALAH DILANKU TAHUN 1990

Novel yang menceritakan seorang  perempuan bernama Milea yang sudah menikah dan dikaruniai seorang anak. Di malam hari ia bernostalgia dengan masa lalunya, dengan kenangan semasa SMA di kotaBandung yang indah. Dengan gaya bahasa khas Pidi Baiq setiap rangkaian katanya mengalunkan jiwa, membuat para wanita yang membaca jatuh cinta pada sosok Dilan dan berharap menjadi Milea di tahun 1990.

‘Dilan’ sendiri bercerita tentang Milea yang memutar ingatannya ke belakang. Saat Dia jatuh cinta dengan seorang cowok  anak geng motor bernama Dilan. Padahal Milea sudah punya pacar di Jakarta.  Dilan selalu punya banyak cara unik yang membuat Milea meleleh. Dengan Bahasa yang dikemas ringan dan senantiasa mengundang tawa, khas Pidi Baiq, menjadi kekuatan novel ini.

Gaya tulisan penulisnya Pidi Baiq, kalimatnya terasa ringan, mengalir dan hidup karena diselingi dengan kalimat dialog bahasa lisan yang kata-katanya terkadang ajaib. Kalimatnya terasa aneh dan diluar nalar terkadang kata-katanya berlompatan.

Membaca novel ini, anda akan terbuai romantisme kota Bandung pada masa tahun 90-an dan kisah cinta anak SMA di tahun yang sama.

Menurut Mas Benny Ramdhani bukunya telah cetak ulang dua kali kurang dari sebulan. Kini proses cetak yang ketiga. 5000 eksemplar percetak.

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Dilan 1990)

.....

"Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" merupakan karya Pidi Baiq yang pertama kali saya baca, jadi saya berusaha untuk nggak menaruh ekspektasi apa-apa. Sejujurnya, saya beli novel ini secara random, cuma berdasarkan coverdan sinopsis. Well, buku ini bahkan nggak ada sinopsisnya, tapi quotes dan testimoni yang ada di bagian belakang buku cukup untuk membuat saya membawa buku ini ke meja kasir (meskipun sebelumnya sempat browsing dulu di Goodreads untuk tahu average rating-nya :p). Cerita dari "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" ini sederhana, yakni tentang Dilan, seorang siswa SMA Negeri di Bandung yang jatuh cinta dengan siswi baru pindahan dari Jakarta; Milea. Tidak mengetahui bahwa sebetulnya Milea telah memiliki pacar di ibu kota, Dilan pun melakukan berbagai usaha untuk mendekati Milea.

Novel ini bisa dibilang merupakan teenlit. Hanya saja, setting-nya pada tahun 1990, saat masih banyak pohon berdiri, jalanan masih sepi, dan pusat-pusat perbelanjaan belum banyak berdiri, membuat Bandungseperti yang dideskripsikan pada novelterasa begitu romantis. Belum lagi masih terbatasnya penggunaan ponsel dan internet, jadi nggak ada yang namanya drama-drama ala cewek cheerleader penguasa sekolah dan cewek cupu yang ditaksir cowok populer (well, I used to read this kind of teenlit and guess what, I enjoyed it. :p). Hei, tapi bukan berarti karena nggak ada drama semacam itu, lantas cerita dari novel ini jadi nggak asik. Novel "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" memang memiliki narasi yang tidak banyak, diksinya juga sederhana walaupun sedikit baku, tapi justru menurut saya, di situlah kekuatannya. Dialog-dialog yang terjadi di antara Dilan dan Milea sukses bikin saya senyum, ketawa, tertegun, dan ikutan malu sendiriseolah-olah saya yang diajak ngobrol Dilan. Hahahaha. Belum lagi berbagai perilaku Dilan yang.... duh, bikin saya kangen pengin baca ulang.

Dilan memang unik. Nyeleneh. Ia merupakan anggota dari geng motor yang kadang ikut tawuran melawan sekolah lain. Nakal, tapi tidak brengsek. Ia tidak takut bertindak untuk sesuatu yang ia anggap benar. Karena nyeleneh itulah, cara-cara yang diambil Dilan untuk merebut hati Milea pun jadi tidak biasa dan bikin saya terenyuh. Pada hari ulang tahun Milea, misalnya, Dilan memberikan buku TTS yang telah dijawab penuh olehnya sebagai kado, karena Dilan tidak mau Milea pusing mengisinya. Atau ketika Milea sakit dan Dilan mengirim tukang pijit langganannya ke rumah Milea untuk memijit gadis pujaannya itu. Satu hal lagi yang bikin saya makin naksir sama Dilan, yakni hobi membacanya. Iya, nakal-nakal begitu, Dilan doyan membaca buku-buku sastra. Makanya, nggak heran kalau dia diam-diam suka menulis puisi, yang beberapa di antaranya ditujukan bagi Milea:
Milea 1
Bolehkah aku punya pendapat?
Ini tentang dia yang ada di bumi
Ketika Tuhan menciptakan dirinya
Kukira Dia ada maksud mau pamer
Milea awalnya merasa risih dan terganggu dengan kelakuan Dilan, apalagi ketika itu Milea sedang pacaran jarak jauh dengan Beni yang ada di Jakarta. Ia pun merasa bersalah dan bingung ketika mendapati dirinya mulai menikmati segala perlakuan nyeleneh Dilan terhadapnya. Nah, karena novel ini diceritakan dari sudut pandang Milea, secara pribadi saya cukup dapat merasakan apa yang dirasakan dan dialami Mileatermasuk ketika ia dan Dilan mulai mengobrol tentang hal-hal absurd tapi manis banget! Di sisi alin, sebagai pembaca wanita, saya jadi merasa dihargai oleh Dilan melalui perilaku dan kata-kata yang diucapkannya pada Milea.
"Lia, kalau kamu merasa tidak kuperhatikan, maaf, aku sibuk memantau lingkunganmu, barangkali ada orang mengganggumu, kuhajar dia!" 
"'Aku pernah meramal kamu nanti akan naik motorku,' kata Dilan. 'Ingat?'
'Iya.'
'Bantu aku.'
'Bantu apa?'
'Mewujudkannya.'" 
"'Nah, sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu.'
'Kenapa?' kutanya.
'Berat,' jawab Dilan. 'Kau gak akan kuat. Biar aku saja.'"
Nah, kan, GIMANA SAYA NGGAK JATUH CINTA SAMA DILAN, COBA? Sayangnya, ternyata novel ini belum selesai. Seneng, sih, masih ada lanjutannya, tapi saya udah nggak sabar nunggunya. Saya baca "Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" ini aja sengaja dipelan-pelanin, nggak mau kehilangan Dilan dan segala perilaku manisnya dengan Milea, meskipun akhirnya habis dibaca juga dalam waktu sehari. Intinya, sih, novel ini nagih. Ehehehe. Semoga cepat bertemu lagi, ya, Dilan dan Milea!

Novel “Dilan 3” Terbit Lebih Cepat?


Novel “Dilan 3” kemungkinan besar terbit lebih cepat dari rencana semula bulan Oktober 2015. “Kemungkinan besar novel “Dilan 3” terbit lebih cepat. Tapi kapan persis waktunya, kita masih menunggu naskah dari Pidi Baiq,” kata Supervisor Penerbit DAR! Mizan Reevi kepada Republika, Ahad (2/8).

Pidi Baiq adalah penulis novel seri  Dilan yang diterbitkan oleh Mizan. Dilan 1 (Dia adalah Dilanku Tahun 1990) terbit bulan April 2015, sedangkan   Dilan 2 (Dia adalah Dilanku Tahun 1991) terbit bulan Juni 2015.

Hari ini (2/8), Pidi Baiq hadir di panggung Jakarta Book Fair (Jakbook) Ikapi DKI 2015 yang digelar di Plaza Parkir Timur Senayan Jakarta. Ia mengisi talk show sekaligus book signing novel “Dilan 2” yang digelar oleh Penerbit Mizan.

Acara tersebut dihadiri ratusan orang, terutama dari kalangan fans Dilan. Acara book signing terus berlangsung hingga pukul 14.00 lewat. Ratusan orang rela mengantre di tengah sengatan matahari hanya untuk mendapatkan tanda tangan Pidi Baiq yang akrab dipanggil “Ayah”.

Pada talk show tersebut Pidi Baiq banyak bercerita tentang proses kreatifnya menulis novel “Dilan”. Novel tersebut mengisahkan tentang kisah cinta masa SMA Milea Adnan Husein, seorang gadis cantik dan anak orang  kaya dengan Dilan, seorang anggota geng motor yang humoris, peramal, juara kelas dan tetap rajin shalat. Kisah tersebut mengambil setting tahun 80-an hingga 90-an.

Reevi mengatakan, banyak fans Dilan yang merasa “kesal” membaca ending novel Dilan 2. Karena itu mereka minta Pidi Baiq segera menerbitkan novel Dilan 3, agar mereka bisa tahu kelanjutan cerita tersebut. “Pidi Baiq bilang, daripada orang ‘marah-marah’ terus ke saya, maka novel Dilan 3 akan saya percepat terbitnya,” ungkap Reevi.


Review: Dilan 2 'Dia Adalah Dilanku Tahun 1991'

Para penggemar novel Dilan pasti akrab kan dengan quote dari Pidi Baiq tersebut. Nah, kalau Yangmuda penasaran gimana kelanjutan kisah Dilan dan Milea, semua akan terjawab di novel Dilan 2!.
Novel Dilan pertama, yang berawal dari postingan di blog Pidi Baiq jadi booming dan punya banyak fans. Anak muda pasti jatuh cinta juga 'kan sama Dilan? Gimana engga, siapa lagi coba cowok yang bisa ngomong gini, "Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja." (Dilan 1990).
Setelah setahun dari jilid pertama, akhirnya awal Juli kemarin, novel kedua Dilan diterbitkan nih Anak muda! Kayak apa ya isi ceritanya?
Setelah melalui proses PDKT yang super lucu dan bikin kita gemes, akhirnya pasangan favorit Dilan dan Milea jadian, yeay! Di awal-awal cerita, kita bakalan ikut ngerasain senengnya masa pacaran mereka berdua, bahkan bikin kamu senyum-senyum sendiri.
Dilan masih tetap sama, masih pintar, aneh, dan jadi anak motor. Walaupun sudah berkali-kali dilarang Milea, Dilan kekeuh engga mau keluar dari gengnya tersebut. "Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka akan sholat pada waktu ujian praktek Agama." kata Dilan. (kalau dipikir-pikir, ya bener juga ya guys! hahaha).
Well, yang namanya masa pacaran, pasti ada ups and downs-nya. Begitu juga dengan kedua tokoh ini. Masa-masa pengenalan dan kompromi akan sikap dan sifat satu sama lain mulai menemukan pertentangan. Puncaknya adalah Dilan yang terancam dipecat dari sekolah karena berantem dengan Anhar, teman sekolah mereka, karena membela Milea.
Dilan yang ingin membalas dendam karena dikeroyok kakak Anhar mendapat larangan keras dari Milea. Bahkan Milea mengancam akan putus dari Dilan, kalau Dilan masih tetap ingin menyerang.
Beside that, kalau Kalian bertanya-tanya, kemana Kang Adi yang super annoying dan maksa-maksa jadian sama Milea? Tenang aja, doi udah out di awal-awal cerita, setelah tahu Milea jadian dengan Dilan. Tapi ada masalah baru yang muncul setelah seorang cowok ganteng, Yugo, yang juga saudara jauh Milea datang dan juga menaruh hati pada cewek tersebut.
Percecokan Milea dan Dilan yang engga kunjung berhenti tentang geng motor, masuknya Yugo ke dalam hubungan mereka, sampai perpisahan yang terjadi setelah mereka berdua lulus SMA, bikin kita jadi gemes sekaligus deg-degan sendiri, akhir kayak apa yang bakalan ditemuin Milea dan Dilan? Apa mereka berdua bakal bareng-bareng lagi?
Seperti yang Pidi Baiq bilang di cover novelnya, "Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah." Di novel Dilan 1990, kita seperti diajarkan bagaimana mendapatkan hati. Dan di 'Dilan 1991', Pidi Baiq sekali lagi mengajarkan kita tentang mencintai, mempertahankan, dan merelakan.
'Dilan 1991' merupakan bacaan yang ringan, bahkan buat kamu yang engga suka baca novel panjang. Walaupun halamannya sampai 343, kamu bakal ngerasa larut di dalam cerita khas Pidi Baiq banget, yaitu dengan bahasa sederhana tanpa ada diksi yang "ngejelimet".
So, buat kamu yang lagi nyari novel yang engga berat, tapi sarat akan pelajaran yang keren, novel Dilan 2 ini jadi bacaan yang wajib banget! Bukan cuma berisi kisah cinta-cintaan aja, tapi kalian bakalan ketawa, sedih, terharu, dan ngangguk-ngangguk sendiri bacanya. Because its so related with us!
PS: kata Pidi Baiq, dua novel ini adalah sudut pandang dari Milea, dan mungkin saja nanti Dilan akan menjawab. Jadi tungguin ya Suara Dilan, mudah-mudahan beneran diterbitkan! Selamat membaca, selamat jatuh cinta, berkali-kali, dengan seorang Dilan!