Wednesday, 17 December 2014

Ingin Tembus Penerbitan?

Diarsipkan di bawah: Dunia Publishing
Oleh : Diena Ulfaty


Ingin Tembus Penerbitan? Gampang! Perbaiki Sinopsismu

Apa alasan kamu membeli buku?. Judulnya?. Sinopsisnya?. Mutunya?. Atau apanya?. Kalau aku biasanya membeli buku karena sinopsisnya bagus. Aku mengetahui “ringan” tidaknya sebuah buku dari sinopsisnya dan pengarangnya (kalau sang pengarang sudah terkenal). Menurutku dari semua itu sinopsis lah yang terpenting (yang membuat aku memutuskan untuk membeli sebuah buku) karena dari sinopsis aku bisa meraba-raba isi buku, mengetahui bobotnya, bermutu tidaknya isi buku - (kecuali kalo pengarangnya berbohong dengan sinopsisnya). Tak semua buku yang berada di rak toko buku memiliki sinopsis yang bagus. Aku seringkali menemukan sebuah sinopsis yang dari sisi penulisan kurang menggigit, bahkan terkesan hambar.
Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya begitu, tetapi kehambaran itu membuat aku menyimpulkan kalau buku tersebut TIDAK LAYAK BACA. Jadi kukira, “nyawa” sebuah buku yang disegel terletak pada sinopsis. The Da Vinci Code, dan buku-buku best seller lainnya memiliki sinopsis yang bernyawa dan itulah salah satu sarana marketing yang membuat buku tersebut menjadi best seller. Lalu apa kaitannya sinopsis dengan lolos tidaknya sebuah naskah di penerbitan?. Oke, aku akan membahas itu tetapi kamu harus tahu dulu definisi sinopsis itu sendiri. Jangan sampai kita memiliki pandangan berbeda tentang hal ini.

Apa sih sinopsis itu?. Sinopsis merupakan bagian dasar dari sebuah tulisan, seperti ringkasan sebuah cerita yang panjang. Tetapi bukan sekedar ringkasan biasa, sebuah sinopsis harus memiliki kekuatan pendeskripsian tentang apa yang diceritakan.
Biasanya sebuah sinopsis dikelompokkan menjadi dua kategori umum : pendek dan panjang. Sinopsis pendek berisi tentang hal-hal yang menarik perhatian kita. Seperti yang kita lihat di kover bagian belakang dari sebuah novel best seller. Sebuah sinopsis juga bersifat argumentatif yang bisa menarik perhatian para agen atau penerbit ketika mendapatkan naskah baru dari seorang penulis. Pendek kata, sinopsis pendek itu yang akan menentukan apakah para pembaca akan tertarik pada cerita tersebut.

Berbeda dari sinopsis pendek, sinopsis panjang hampir mirip dengan sebuah rangkuman cerita namun menyimbolkan unsur-unsur penting supaya pembaca tertarik untuk membaca cerita secara keseluruhan.

Untuk lebih jelasnya aku akan memberikan contoh sinopsis pendek yang aku ambil dari novel The Testament (Surat Wasiat) karya John Grisham. Perhatikan contoh berikut.
Troy Phelan – miliader yang sukses berkat kerja keras seumur hidupnya, eksentrik, suka menyendiri, dan hidupnya terikat pada kursi roda- memilih mengakhiri riwayatnya dengan terjun dari lantai empat belas gedung perkantorannya. Keenam anaknya dari ketiga mantan istrinya sudah lama menunggu kematiannya bagai burung pemakan bangkai. Namun isi surat wasiatnya mengejutkan semua pihak, seluruh harta warisannya jatuh ke tangan ahli waris yang tak dikenal – anak di luar nikah yang tak diketahui keberadaannya.
Nate O’Riley – pengacara yang karir dan keluarganya berantakan karena ia kecanduan minuman keras dan obat-obatan terlarang – ditugaskan mencari si ahli waris untuk mendapatkan ketegasan mengenai status harta warisan itu. Kembali ke dunia nyata memang tidak mudah, nyawanya nyaris melayang menghadapi keganasan alam hutan Brasil dan godaan dari dalam dirinya.
__________________________________________
Apa yang kamu rasakan saat membaca sinopsis di atas?. Tertarik membaca lebih lanjut?. Itu poinnya. Sinopsis memang dibuat supaya pembaca penasaran terhadap cerita secara keseluruhan, dan ini bagian dari marketing supaya buku laris terjual. Bagi seorang penulis yang ingin naskahnya terbit sudah saatnya mempelajari cara penulisan sinopsis yang baik supaya bisa merayu penerbit. Tentunya di samping hal lain yang ikut berperan penting pada layak tidaknya naskah diterbitkan, seperti mutu naskah, cara penyampaian (gaya bahasa), pangsa pasar, dll.

Ada dua kunci yang harus kamu pegang ketika membuat sinopsis. Pertama, kamu harus tahu dan bisa menemukan hal yang menarik, menghebohkan, dan unsur pembangkit rasa ingin tahu pembaca dalam ceritamu, dan fokuskan dirimu pada hal tersebut. Jangan pernah berbohong tapi gunakanlah bahasa yang bisa membetot perhatian pembaca. Buat mereka penasaran.
Kunci kedua adalah kamu harus bisa mengidentifikasi kata emas yang menjadi bagian dari ceritamu. Memang hal itu sangat bergantung pada plot dan karakter tetapi tunjukkan pada pembaca nyawa dari ceritamu.

Dan Brown, adalah contoh seorang penulis yang piawai bermain kata dan tahu benar apa yang ingin diketahui oleh pembaca, itulah sebabnya novel-novelnya menjadi best seller. Sebagai contoh The DaVinci Code. Banyak sekali hal menarik yang diramu dengan gaya bahasa yang mempesona sehingga mampu membetot perhatian pembaca. Dan dalam semua karyanya, Brown berhasil membuat pembacanya tersihir. Mengapa buku-bukunya tersebut menjadi mega best seller yang terjual dengan angka mengerikan – jutaan kopi?. Jawabannya simple, Da Vinci Code misalnya merupakan karya yang sungguh berani karena mempertanyakan kebenaran dari sebuah agama. Nah inilah kuncinya. Banyak sekali orang yang tertarik mengetahui kalau ternyata sebuah agama besar yang dianut oleh jutaan orang seluruh dunia, dipertanyakan kebenarannya. Pasti ada banyak kritik yang diterima penulis, tapi tema yang diangkat tersebut memang mampu menarik perhatian publik. Poinnya terlihat jelas yang kemudian diramu dengan gaya bahasa yang mampu meyakinkan pembaca, tak peduli ceritanya benar apa tidak.

Nah ingin tembus penerbitan?. Perbaiki sinopsismu supaya penerbit mempertimbangkan karyamu, atau setidaknya mau membacanya dahulu sebelum memutuskan terbit tidaknya. Jangan sampai penerbit membuang naskah yang dari isinya sebenarnya bagus tapi sinopsisnya membosankan. Nah selamat mencoba!

Diena Ulfaty adalah penulis Inspiring Stories for Kids. Kisah-Kisah Teladan tentang Kepahlawanan, Kesabaran, Kejujuran dan Cinta. Insya Allah terbit September tahun ini.

0 komentar:

Post a comment